Come in with the Rain
Hujan
seperti nya sedang gencar gencarnya mengguyur ibukota. Kulangkahkan kaki menuju
halte bus. Halte bus masih sangat sepi untuk jam sibuk seperti sekarang.
Seragam yang tadi pagi susah payah ku
setrika sambil berkejaran dengan waktu kini sudah basah terkena keringat yang
bercampur dengan air hujan. Hujan selalu menemani kesialanku. Bagiku hujan
sangat merepotkan. Hujan juga selalu menemani hal hal buruk yang terjadi dalam
hidupku. Hujan menjadi teman buruk dalam sepanjang waktu aku hidup. Lamunanku
buyar dengan bau rokok yang melewati lubang hidungku tiba tiba. Campuran bau
hujan, tanah basah, dan rokok mengelilingiku dan seketika membuatku pusing. Aku
menoleh dan melihat cowok itu. cowok yang memakai seragam yang sama denganku namun
aku tak pernah melihatnya selain di halte yang ku duduki saat ini. Cowok itu,
cowok yang membuatku kini menunggu nunggu hujan, bukan menghindarinya.
Cowok itu
selalu membawa tas coklat nya. Memakai seragam putih abu abu yang sama
denganku. Kulitnya seperti coklat kopi. Ia selalu membiarkan rambutnya
membentuk jambul yang berdiri keatas. Cara jalannya yang terkesan misterius dan
hanya memandang lurus kedepan. Ia hanya akan berbicara seperlunya. Ia selalu
duduk di tengah tengah kursi halte yang kadang bersebelahan denganku. Ia selalu
datang setelahku, dan ia selalu lebih dulu beranjak dari halte itu. Aku
menyebutnya cowok hujan. Karena ia bagaikan sosok yang selalu lekat dengan
hujan.
“Rokoknya
boleh dimatiin?” aku memberanikan diri bersuara lebih dulu darinya. Ia
melirikku lalu kemudian benar benar menggerakkan kepalanya menghadapku sambil
mengangguk singkat. Ia membuang rokoknya.
“Thanks”Ucapku
kemudian. Suasana canggung langsung merayap ditemani suara rintik hujan yang
masih menetes dan suara kendaraan yang lewat. Halte itu yang biasanya rame akan
orang berjualan kini kosong. Hanya ada aku dan cowok hujan itu. Aku ingin
menghilangkan suasana canggung ini. Namun aku tak tau harus bagaimana. Otakku
kemudian tanpa sadar sudah berputar mencari cari cara untuk mengajaknya
mengobrol atau apapun agar tidak ada suasana canggung yang benar benar membuat
mati kutu.
“Angkot lo
udah lewat” ia tiba tiba berbicara dan membuyarkan lamunanku. Aku menoleh lalu
celingukan. Aku sedang memikirkan cara untuk memulai pembicaraan lalu dia malah
memulai pembicaraan. Aku menoleh dan menatapnya tak mengerti. Ia ganti
menatapku acuh tak acuh.
“tadi
angkotnya udah lewat. Lo bengong”Ujar cowok hujan itu. aku hanya mengangguk,
bingung harus merespon apa. Lagi lagi udara di sekitarku dan cowok itu kembali
canggung. Selalu begitu. Aku mengetahuinya namun aku tak mengenalnya. Ku
perhatikan cowok itu dari samping. Headseat menyumpal telinganya. Mengeluarkan
musik yang membuat kakinya bergerak seirama. Sepatu lusuh berwarna jins biru
muda bertali putih itu tampak sudah kusam. Namun penampilan cueknya justru
selalu membuatku ingin memperhatikan setiap detail yang ada padanya.
“Bawa payung?”
Entah darimana nyali itu datang dan siapa yang mendorong suaraku untuk keluar.
Ia menatapku aneh. Aku menjadi kikuk sendiri.
“Kalo gue
bawa payung, dari tadi pasti udah jalan. Nggak bakalan duduk disini”Suara
khasnya muncul.
“Jadi bukan
nunggu angkot?”Tanyaku memberanikan diri. Ia menggeleng.
“Bukan.
Hanya menunggu hujan menyelesaikan keindahannya”Ujar cowok itu kemudian. Aku
mengangkat alisku tak mengerti.
“Hujan itu
menyusahkan kondisi. Dingin, pembawa penyakit, membuat banjir. Apanya yang
indah” Tapi hujan mempertemukan kita. Aku
menambahkan kalimat itu didalam hati sambil tersenyum sendiri. Ia menatapku
dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Tapi hujan
gak pernah membiarkan lo sendiri.”Ujar cowok itu. lalu seperti biasanya, ia
berdiri dan meninggalkan halte itu terlebih dahulu di banding aku. Selalu
seperti itu. aku bertemu dengannya, berbicara dengannya sepatah dua patah kata.
Namun aku tak pernah benar benar mengenalnya. Aku bahkan belum mengetahui
namanya. Ia selalu pergi sesaat sebelum hujan berhenti.
Lalu, suatu
hari aku mendapati cerpennya di muat di mading sekolah. Tentu saja aku tau,
karena yang ia ceritakan adalah diriku. Ia menceritakan tentang pertemuannya
denganku. Lucunya, ia menyebutku gadis hujan. Aku hafal salah satu paragraf
pada cerpennya.
“Gadis itu selalu tampak rikuh dengan
suasana hujan. Ia tak pernah menunjukkan sisi nyamannya pada hujan. Padahal
dirinya dan hujan sangat kontras. Caranya berdiri di pinggir halte, matanya
yang tak pernah lepas dari setiap angkutan yang lewat, menanti angkot yang akan
membawanya pergi segera dari halte itu. hujan yang turun di samping sampingnya
namun tetap membuat gadis hujan itu kering. Kenapa begitu membenci hujan,
Kayra?”
Lucu, ia
malah menyebut namaku di akhir paragraf itu. namun ternyata ia mencantumkan
namanya di akhir cerpen tersebut. Raka. Nama cowok hujan itu Raka. Aku
tersenyum. Setidaknya aku tau nama cowok itu. cowok yang selalu datang dengan
hujan.
0 comments:
Post a Comment