Wednesday, September 11, 2013

Paradise writing


Come in with the Rain
Hujan seperti nya sedang gencar gencarnya mengguyur ibukota. Kulangkahkan kaki menuju halte bus. Halte bus masih sangat sepi untuk jam sibuk seperti sekarang. Seragam  yang tadi pagi susah payah ku setrika sambil berkejaran dengan waktu kini sudah basah terkena keringat yang bercampur dengan air hujan. Hujan selalu menemani kesialanku. Bagiku hujan sangat merepotkan. Hujan juga selalu menemani hal hal buruk yang terjadi dalam hidupku. Hujan menjadi teman buruk dalam sepanjang waktu aku hidup. Lamunanku buyar dengan bau rokok yang melewati lubang hidungku tiba tiba. Campuran bau hujan, tanah basah, dan rokok mengelilingiku dan seketika membuatku pusing. Aku menoleh dan melihat cowok itu. cowok yang memakai seragam yang sama denganku namun aku tak pernah melihatnya selain di halte yang ku duduki saat ini. Cowok itu, cowok yang membuatku kini menunggu nunggu hujan, bukan menghindarinya.
Cowok itu selalu membawa tas coklat nya. Memakai seragam putih abu abu yang sama denganku. Kulitnya seperti coklat kopi. Ia selalu membiarkan rambutnya membentuk jambul yang berdiri keatas. Cara jalannya yang terkesan misterius dan hanya memandang lurus kedepan. Ia hanya akan berbicara seperlunya. Ia selalu duduk di tengah tengah kursi halte yang kadang bersebelahan denganku. Ia selalu datang setelahku, dan ia selalu lebih dulu beranjak dari halte itu. Aku menyebutnya cowok hujan. Karena ia bagaikan sosok yang selalu lekat dengan hujan.
“Rokoknya boleh dimatiin?” aku memberanikan diri bersuara lebih dulu darinya. Ia melirikku lalu kemudian benar benar menggerakkan kepalanya menghadapku sambil mengangguk singkat. Ia membuang rokoknya.
“Thanks”Ucapku kemudian. Suasana canggung langsung merayap ditemani suara rintik hujan yang masih menetes dan suara kendaraan yang lewat. Halte itu yang biasanya rame akan orang berjualan kini kosong. Hanya ada aku dan cowok hujan itu. Aku ingin menghilangkan suasana canggung ini. Namun aku tak tau harus bagaimana. Otakku kemudian tanpa sadar sudah berputar mencari cari cara untuk mengajaknya mengobrol atau apapun agar tidak ada suasana canggung yang benar benar membuat mati kutu.
“Angkot lo udah lewat” ia tiba tiba berbicara dan membuyarkan lamunanku. Aku menoleh lalu celingukan. Aku sedang memikirkan cara untuk memulai pembicaraan lalu dia malah memulai pembicaraan. Aku menoleh dan menatapnya tak mengerti. Ia ganti menatapku acuh tak acuh.
“tadi angkotnya udah lewat. Lo bengong”Ujar cowok hujan itu. aku hanya mengangguk, bingung harus merespon apa. Lagi lagi udara di sekitarku dan cowok itu kembali canggung. Selalu begitu. Aku mengetahuinya namun aku tak mengenalnya. Ku perhatikan cowok itu dari samping. Headseat menyumpal telinganya. Mengeluarkan musik yang membuat kakinya bergerak seirama. Sepatu lusuh berwarna jins biru muda bertali putih itu tampak sudah kusam. Namun penampilan cueknya justru selalu membuatku ingin memperhatikan setiap detail yang ada padanya.
“Bawa payung?” Entah darimana nyali itu datang dan siapa yang mendorong suaraku untuk keluar. Ia menatapku aneh. Aku menjadi kikuk sendiri.
“Kalo gue bawa payung, dari tadi pasti udah jalan. Nggak bakalan duduk disini”Suara khasnya muncul.
“Jadi bukan nunggu angkot?”Tanyaku memberanikan diri. Ia menggeleng.
“Bukan. Hanya menunggu hujan menyelesaikan keindahannya”Ujar cowok itu kemudian. Aku mengangkat alisku tak mengerti.
“Hujan itu menyusahkan kondisi. Dingin, pembawa penyakit, membuat banjir. Apanya yang indah” Tapi hujan mempertemukan kita. Aku menambahkan kalimat itu didalam hati sambil tersenyum sendiri. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Tapi hujan gak pernah membiarkan lo sendiri.”Ujar cowok itu. lalu seperti biasanya, ia berdiri dan meninggalkan halte itu terlebih dahulu di banding aku. Selalu seperti itu. aku bertemu dengannya, berbicara dengannya sepatah dua patah kata. Namun aku tak pernah benar benar mengenalnya. Aku bahkan belum mengetahui namanya. Ia selalu pergi sesaat sebelum hujan berhenti.
Lalu, suatu hari aku mendapati cerpennya di muat di mading sekolah. Tentu saja aku tau, karena yang ia ceritakan adalah diriku. Ia menceritakan tentang pertemuannya denganku. Lucunya, ia menyebutku gadis hujan. Aku hafal salah satu paragraf pada cerpennya.
“Gadis itu selalu tampak rikuh dengan suasana hujan. Ia tak pernah menunjukkan sisi nyamannya pada hujan. Padahal dirinya dan hujan sangat kontras. Caranya berdiri di pinggir halte, matanya yang tak pernah lepas dari setiap angkutan yang lewat, menanti angkot yang akan membawanya pergi segera dari halte itu. hujan yang turun di samping sampingnya namun tetap membuat gadis hujan itu kering. Kenapa begitu membenci hujan, Kayra?”
Lucu, ia malah menyebut namaku di akhir paragraf itu. namun ternyata ia mencantumkan namanya di akhir cerpen tersebut. Raka. Nama cowok hujan itu Raka. Aku tersenyum. Setidaknya aku tau nama cowok itu. cowok yang selalu datang dengan hujan.

0 comments:

Post a Comment

 
P.s this is what I've been Thinking... Blogger Template by Ipietoon Blogger Template