Tak penahkah kau berfikir?
Buat apa aku peduli pada acuh mu?
Sekali saja perhatikan, bagaimana aku mengucap doa yan melewati embun pagi
Pernahkah kau lihat sejenak, bagaimana aku mengirim suara suara hatiku lewat rintik hujan
Aku terkadang lelah menunggumu yang tak kunjung tersadar. Kau tak kunjung sadar dari tidur panjangmu. Kau tak pernah membuka pilar pilar jendela. Kau tak pernah sadar sekelilingmu. Semua ingin mengenalmu. Aku ingin mengenalmu. Namun kau mengurung dirimu di sangkar besar yang tak pernah kau buka. Salahkah membuka sedikit? Aku ingin kau tau, betapa aku telah menanti begitu lama. Kau pun mungkin tak akan menyangka.
Hai kau keringnya daun, kerasnya batu karang, dinginnya salju kutub. Adakah pemecahnya? Kapak apa lagi yang mampu mengancurkan batu sekokoh engkau? Panas apalagi yang mampu melelehkan milyaran salju dingin. Cuaca macam apalagi yang mampu menghentikan keringnya daun? Mengapa begitu sulit? Kau membuat segala yang terlihat normal menjadi sulit. Mengapa kau tega membiarkanku dalam abu abu? Masih adakah hati yang bercahaya disana? Aku ingin tau. Aku ingin mengerti. Aku juga ingin kau benar benar mengerti. Aku mencintamu. Sudah berapa kali aku berkata? Hingga bosan diriku sendiri mengingatkan diriku sendiri bahwa diriku lelah mencintamu. Namun hatiku belum
Tuesday, January 21, 2014
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment