Boleh tidak, jika kali ini aku hanya memimpikan cinta yang mudah saja?
Aku tau, cinta tidak akan pernah mudah.
Dengan segala rumitnya, dengan segala perjuangannya, pun kadang waktu yang salah atau memang orang yang salah. Cinta tak pernah terkesan mudah dan bisa dilewati begitu saja. Butuh malam-malam penuh dengan tangisan, atau malam-malam penuh pemikiran, sujud lama, hingga tertidur dan berharap bahwa suatu saat cinta akan menemukan jawabnya sendiri. Bahwa mempercayai kalau cinta akan berakhir manis pun juga perlu.
Hampir satu tahun terakhir, aku sadar aku mungkin bersama orang yang salah. Segala sesuatu yang seharusnya berjalan dengan mudah, kini mulai terlihat bahwa bukan hal yang kita hadapi yang susah, namun memang jika orang tersebut sudah tidak mau bersamaku, segala sesuatuya akan terlihat sulit dengan berbagai hambatannya. Mencintai sebelum ini membuatku sedikit banyak sadar, bahwa cinta akan menemukan yang tepat di waktu yang tepat pula. Maka jika sebelumnya buatku adalah sosok yang tepat, namun itu semata mungkin hanya buta mata dan buta hati.
Pada akhirnya kesadaranku akan mencintai diri sendiri lebih penting. Bahwa dia tidak sebaik itu untuk diperjuangkan.
Aku sudah menghabiskan berpuluh-puluh malam menangisi sosok yang bahkan tidak akan pernah menyadari betapa aku benar-benar akan bertahan jika akhirnya dia memilihku.
Aku sudah membuang banyak kesempatan bersama hal-hal yang lebih menyenangkan hanya karena sosoknya.
Dia baik, tapi dia tidak cukup baik untuk membuatku pada akhirnya bertahan lagi setelah beribu kali aku berfikir untuk pergi.
Sakit tidak perlu di perjuangkan, sakit seharusnya tidak dibiarkan ada berlama-lama. Maka bodohnya aku dahulu, membiarkan dia menyakitiku berkali-kali. Berharap pada keajaiban semu, jika pada akhirnya dia akan menyadari keberadaanku. Aku tidak berbohong, aku selalu berfikir bahwa dia akan bisa bersamaku jika dia sudah kembali sembuh, jika dia tidak terus-terusan jatuh.
Tapi sayang, aku juga bukan tempatmu untuk kembali dan terus-terusan terluka. Aku bukan tempatmu berlari lagi.
Aku bukan pula pemberi obat yang kemudian bisa kau bayar saja.
Aku menemanimu dengan harapan baik untuk mu, untuk kita.
Namun lagi,
Dia tidak sebaik itu.
Dan dia tidak perlu diperjuangkan.
Jika beginilah akhirnya,
biarkan aku yang akhirnya menyadari betapa banyak perasaanku yang terluka karenamu.
biarkan aku yang akhirnya mengakui omongan orang-orang tentangmu.
biarkan aku memaafkan diriku sendiri, pernah menjadi bodoh demi sebuah cinta yang bahkan tidak layak.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment