Semakin bertambahnya usia, rasanya kalimat itu semakin relate untuk segala hal, semua orang, dan tidak menutup kemungkinan hanya kepada yang terdekat saja.
Perlahan melebur, perlahan lupa, lalu hilang begitu saja dan terlepas dari genggamku.
Kamu adalah satu dari sekian banyak hal yang perlahan aku lupakan, sekuat tenaga aku singkirkan angan tentangmu. Walau setiap jalanan di sudut kota ini adalah kamu. Walau aku tidak pernah bisa berhenti berharap berpapasan denganmu di setiap sudut kota ini, atau dimana asal kita berada. Kamu seperti hilang. Hanya muncul di peradaran maya. Ada, namun tidak terjangkau. Terlihat, namun tak tercapai.
Lalu ada manusia-manusia lain, mengaku sahabat, mengaku dekat. Namun hilang.
Bilangnya sibuk, padahal sibuk adalah persepsi dan caramu mengusahakan orang-orang terdekatmu.
Mungkin egois bagi sebagian orang, bahwa buatku sibuk hanyalah sebuah alasan dan wacana.
Namun bukankah mereka yang sebenarnya egois?
Memang manusia, semua pun berakhir sama. Perlahan lupa, lalu hilang.
Hilang di peradaran, lama-lama hilang dari hidupmu.
Kita sudah cukup dewasa untuk bisa menentukan, apakah selayaknya seseorang kita pertahankan atau tidak. Apakah seseorang cukup layak untuk berada dalam peredaran kita atau tidak. Dan tentunya, masih perlukah kita pertanyakan keberadaannya saat dia pun belum tentu menanyakan keberadaanmu?
Maka kali ini kuputuskan, aku membiarkan diriku melupakanmu.
Aku membiarkan mereka yang hilang dari hidupku untuk tetap hilang.
Karena aku tidak lagi mencari. Aku tetap disini.
Jika mereka mencariku, mereka tidak perlu banyak berusaha, karena aku akan masih disini.
0 comments:
Post a Comment