Dua menit pertama pun aku bingung harus bagian mana dulu yang kutuliskan.
Ah tapi bagian mana saja pun yang aku ceritakan, semuanya sama saja bukan, tentang patah hati (lagi)? Jadi mengapa tak memulainya saja.
Mencintaimu. Kata itu rasanya terlampau berat untukmu yang hanya kukenal selama satu bulan lebih 3 hari. Kata itu rasanya terlampau dalam untuk seseorang yang sangat sebentar berada di dekatmu.
Untukku, kamu rekor. Iya, bisa mengambil hatiku secepat itu. Namun secepat itu juga kau mematahkannya. Iya aku sadar aku yang salah, waktu sebulan terlampau sebentar untuk aku mampu jatuh cinta.
Namun toh, waktu sebulan itu tidaklah sebentar pula, bukan waktu yang sia sia juga.
2 mei 2016. Hari itu pertama kali kita berkenalan. Menceritakan mimpi masing masing, ambisi, tujuan hidup kita, cerita cerita kamu, aku masih ingat semuanya. Hari itu, aku tak tau harus mengutuknya atau bersyukur atas ketidaksengajaan kamu harus duduk di sebelahku. Hari itu yang merubah segalanya.
5 mei 2016, saat kamu jatuh sakit dan harus dirawat. Seperti Ada yang hilang dari hidupku, seperti kehilangan seseoranh untuk bicara dan bercerita. Malam itu, kita chat pertama kali. Singkat, namun berkesan.
10 mei 2016. Dan aku pun sadar, saat kamu kembali dari rumah sakit, kamu adalah kepingan yang hilang itu. Melihatmu kembali di kamar sebelah membuatku tertawa bahagia, iya bahagia, karena aku sadar ternyata kamu yang hilang dan ki cari.
14 mei 2016. Hari itu pertama kali kamu foto sama aku berdua. Malam itu juga pertama kali kita jalan berdua, berbagi cerita dan kekonyolan di sepanjang jalan. Berakhir di warung pempek jl.Taman Siswa. Aku ingat malam itu kita duduk berdua di meja makan hotel, berbicara soal cinta, seolah bukan kita yang mengalaminya. Berbincang hingga larut, padahal kita tau, kita ada ujian besoknya.
15 mei 2016. Sore itu kita pergi ke Jogja Mall city. Film Criminal, ah aku jarang sekali nonton film action di bioskop, tapi dengamu aku bisa menonton film yang sama sekali bukan genre favoritku. Pertama kali nya kita nonton bioskop sebelahan, bahagia sekali hari itu. Tidak ada ekspektasi apapun, hanya bahagia untuk saat itu.
21 mei 2016. Oh hari itu, entah kenapa menjadi hari yang berat untuk kita berdua. Entah kita yang lelah dengan semua kejaran sang waktu yang terus memburu, atau deadline masa depan yang makin dekat, atau memang hanya lelah karena jadwal yang mulai memadat tak kenal henti. Malam itu kita duduk berdoa di depan mobil, mendengarkan lagu berdua dengan headseatmu. Kamu dengan pikiranmu, aku dengan pikiranku. Berdiam pada lelah yang menggelayut. Dan malam itu merubah segalanya.
25 mei 2016. Berjanji untuk melupakanmu saja bahkan sulit untuk ku lakukan. Keberadaanmu yang sangat dekat denganku membuatku sulit melepasmu.
31 mei 2016. Bagaimana menjelaskan tanggal ini? Bahagia, karena semua puncak dari segalanya telah selesai. Karena hari itu memberi banyak cerita, juga waktu yang semakin menipis. Perpisahan pun sudah didepan mata. Hari itu kita lagi lagi ke bioskop, kamu di sebelahku, tertawa tawa bersama melihat film komedi didepan kita. Yang bahkan terkadang garing, tetap saja kita tertawakan. Malam itu aku membelikanmu kado, sebagai pengingat bahwa aku pernah ada di hidupmu. Karena kamu berarti untukku.
1 Juni 2016. Ulang tahun ke-19 mu, juga perpisahan kita. Pada detik terakhir pun, aku hanya mampu memberimu kado dan surat, berharap kau mengerti dengan sendirinya perasaanku. Namun aku memang salah untuk berharap kau mengerti.
Hari itu, aku mencoba melepaskanmu. Namun ternyata takdir punya caranya sendiri dan kisahnya sendiri. Aku dipertemukan lagi denganmu, diberi kesempatan beberapa hari lagi untuk bersama mu. Bahagianya aku.
2 Juni 2016. Ingatkah kamu saat kita makan pecel lele dipinggir jalan? Duduk, berbagi cerita tentang keluarga masing masing, apa saja yang bisa di ceritakan dan di bagi. Lalu kita pergi karaoke. Aku ingat semua daftar lagu yang kita nyanyikan berdua. Aku ingat lagu favorit yang kamu pilih. Aku ingat malam itu, seperti perpisahan yang terbayarkan.
3 Juni 2016. Akhirnya sang waktu menentukan batas bahagia ku. Pada akhirnya kita harus berpisah, kembali ke tempat masing masing. Hari itu, kamu memberiku mainan kecil, yang kamu bilang "biar kamu inget aku kalo liat itu" astaga, tanpa kau beri apapun aku pasti mengingatmu bintang.
Sesak hati saat harus lagi lagi melihat kepergianmu yang kedua kali.
Dan kini sudah satu bulan semenjak tanggal 21 bulan lalu.
Aku masih merindukanmu, berharap ada cahaya terang untuk hubungan kita.
Aku masih mencintaimu, dan perlahan lahan mencoba melepaskan lagi.
Dear bintang, makasih telah mengajariku cara melepas masa lalu, lalu jatuh cinta padamu, juga belajar melupakanmu.
Mungkin memang cinta terlalu cepat datang padaku, tapi waktu sebulan juga bukan waktu yang singkat untuk jatuh cinta. Namun aku juga tak bisa menunggu terus terusan pada jarak yang tak pasti, cinta yang menggantung, dan pada ratusan pertanyaan tak terjawab.
I need to moving on from you.
Thank you for those one month.
Oh ya, dan makasih juga kisah cinta singkat sekaligus Patah hatinya.





0 comments:
Post a Comment