Tak terasa ada jeda waktu yang telah kita lepaskan begitu saja. Menguap dan menyatu dengan udara di sekitar. Meninggalkan kita, namun meninggalkan buih-buih embun. Kini udara itu kembali lagi. Karena kau menyatu denganku, pada akhirnya akan kembali lagi.
Perputaran yang kita lakukan tak pernah menjauh.
Jeda yang telah kita buat, aku kira cukup untuk menghapus mu dari kepalaku. Cukup untuk memadamkan rasa yang sempat membara, lalu mati terguyur derasnya hujan sang asa.
Jeda yang sempat aku tinggalkan hingga aku lupakan, nyatanya tak mampu menghapusmu dariku sepenuhnya.
Kini saat rindu menyergapku, aku tak tau harus berpegang pada apalagi. Aku begitu merindukanmu, sadarkah kamu?
Hingga aku tak tau lagi harus menyuarakan jerit kesal rindu ini pada siapa lagi. Kau terlalu jauh untuk ku jangkau. Banyak ketidakmungkinan yang membatasi rasa ini bukan?
Aku bukannya tidak belajar dari pengalaman jatuhku, aku sadar betul jarak yang menghalangi kita. Bukan suatu hal yang bisa dilewati dan diabaikan begitu saja.
Kamu, iya kamu
yang namanya masih selalu membekas di ingatanku. Kamu, alasan aku kembali pulang ketempat kita dulu. Bertemu denganmu hanya sekilas, tak cukup mengobati rinduku. Ada suara terpendam yang ingin aku sampaikan, ada sebait puisi yang ingin ku tuliskan untukmu.
Aku rindu.
Namun aku tak tau lagi harus menyampaikannya bagaimana.
Melihatmu sekarang, hanya melalui video-video yang kau unggah di viral. Ya, terkadang cukup mengobati rindu.
Namun kadang pula, membuatku makin menyadari seberapa jauh jarak yang kita miliki.
Aku masih merindukanmu selalu sayang.
Jeda ini hanya sia-sia
pada akhirnya tetap mengembalikanmu pada tempat yang sama, tetap lagi-lagi merindu
Jeda pada kembalimu
Sunday, November 27, 2016
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment