I don’t know why it’s always been him.
Aku kira rasa yang dahulu pernah ada akan hilang dengan
sendirinya dengan berjalannya waktu. Iya memang hilang, namun ternyata hanya
hilang yang sementara.
Bertemu denganmu membuatku sadar, seberapa jauh kita, berapapun
rentang waktu yang terbentang, kamu ya tetap kamu. Yang selalu mempunyai ruang
hati tersendiri untukku. Kamu adalah bagian dari hatiku yang dahulu pernah
tinggal. Lalu kesadaran itu seperti bola
es yang menghantamku telak. Akan butuh waktu berapa lama hingga aku benar benar
merelakanmu? Bahkan saat bahagia melihatmu bahagia, yang aku sangka adalah
bentuk merelakanmu yang paling ikhlas, ternyata belum juga cukup.
Aku rasa merelakanmu saja belum cukup.
Aku kini tak tau lagi bagaimana menghilangkan kupu-kupu yang
muncul saat bertemu denganmu, menahan sembu merah di pipiku saat berbicara
berhadapan denganmu. Ada bayang dia di mata mu, ada sosok lain yang selalu
menjagamu, ada sosok lain yang terus-terusan menghubungimu hingga kau tak bisa
melepaskan hp mu. Aku melihat itu semua.
Dengan kenyataan bahwa aku ikhlas dengan segala hal asal itu
bahagiamu, mengapa aku masih terus-terusan begini?
Kini aku yang terus-terusan mempertanyakan diriku
sendiri.
Apa aku sudah cukup kuat melepaskan?
Apa aku memang masih lemah dalam mempertahankan hatiku
sendiri?
Apa aku kurang menjaga hatiku?
Apa aku yang terlalu mudah terlena?
Kini aku terus terusan mempertanyakan hatiku sendiri.
Kamu, dengan segala hal manis dan nyata yang dahulu selalu
aku impikan. Kamu, dengan segala perasaan yang dahulu pernah ada melekat sangat
kuat. Namun aku juga ingat, apa alasanku berhenti dari mencintaimu yang tak
berkesudahan.
Karena mencintaimu, aku telah banyak melewatkan
perasaan-perasaan lain yang datang kepadaku. Karena mencintaimu, aku menutup
semua mata hatiku. Karena mencintaimu, membuatku sakit begitu besar. Karena mencintaimu,
membuatku terluka yang tak pernah ada hentinya. Aku mencintaimu sebesar itu.
Namun kau juga pernah menyakitiku sedalam itu.
Aku tidak tau kalimat mana yang harus ku uraikan. Kamu yang
memang tak pernah bisa mencintaiku, atau aku yang tak pernah berhenti untuk
mencintaimu.
Berbicara tentang mencintaimu memang tak akan ada habisnya. Sama
dengan perasaan ini. Aku hampir tidak ingat kapan kita terakhir bertemu, dan
kini setelah sekian lama, aku masih memiliki getar-getar rasa yang sama.
Aku bahkan telah sadar aku mencintaimu dari 4 tahun yang
lalu. Aku pernah mengagumi sosokmu dari 7 tahun yang lalu. Ya itu mungkin hanya
sekedar angka yang terlewati begitu saja dengan banyaknya kejadian diantara
kita. Namun itu tidak pernah merubah perasaanku terhadapmu. Selalu ada sayang,
selalu ada cinta untukmu.
Jika waktu yang terbentang lama tidak menghapus pula rasa
ini, aku harus bagaimana lagi?
Jika jarak yang melintang diantara kita berdua tidak juga
memisahkan kita, aku harus pergi kemana lagi?
Kau bahkan bisa menemukanku, disini, diantara untaian kata
yang aku urai dengan segenap hatiku. Aku memang tidak pernah bisa pergi darimu,
karena kau akan selalu menemukanku.
Atau memang mungkin aku yang belum pergi terlalu jauh? Tapi kemana
lagi aku harus berlari?
Then i am here, asking my self over again and again. Why it should be him?
Kenapa selalu dia yang menjadi seseorang yang tersimpan rapi di hatiku? even in a long term, long separate, long time, between the miles and between the time. It's always been him.
Sampai kapan aku harus terus terusan merasakan ini pada seseorang yang bahkan tidak pernah bisa menyayangiku lebih dari sahabat?
Oh aku bahkan tak tau bagaimana ia menyebutku?
apa yang dia rasakan untukku?
aku bahkan tidak pernah tau
dan aku tidak akan pernah bertanya,
Buatku begini saja lebih baik. Karena aku sendiri masih terus-terusan mempertanyakan hatiku yang tak pernah bisa berhenti menyayanginya.
0 comments:
Post a Comment