"Now i wish we never met, cause you're too hard to forget"
Halo,
Kembali lagi pada blog ini dan cerita cinta yang lainnya.
Selamat, kalau kamu mengikuti perjalanan ku hingga kini.
Menceritakannya susah, sungguh. Berbeda dengan yang lainnya, karena padanya aku berharap pada hal besar. Darinya, aku belajar mencintai kepastian dan melepaskannya.
9 Januari 2019,
Hari itu, pertama kalinya aku bertemu denganmu. Kamu duduk di sofa lobby, aku duduk di meja depan.
"Lagi sibuk ngurus event apa ka?"
"Iya nih, Shoppee"
I remember, that i am the one that make a moves that day. Menghampirimu, mengajakmu berkenalan dengan kepercayaan diri penuh.
Hari itu, kamu menggunakan baju berwarna abu-abu, celana jins biru belel mu.
11 Januari 2019
Hari dimana aku melihatmu pertama kali bekerja, menangani event besar di Jakarta. Kamu sebagai show director.
Hari ini ada cerita lucu, saat kamu melihat kebingunganku yang tidak tau harus duduk dimana. Kamu menawariku duduk di satu spot yang seharusnya untuk VIP. Lalu saat aku berjalan keluar untuk menelfon temanku, kamu bertanya,
"Mau kemana?"
Dengan gugup aku jawab, aku ingin menelfon sebentar di luar. Suara terlalu bising, dan aku yang terlalu nervous. Kehadiranmu seperti intimidasi yang candu. Aku takut berada di sekitarmu, merasa tidak percaya diri, namun aku menginginkan kehadiranmu.
Lalu, aku sadar aku tidak punya nomor telfon temanku. Maka dengan muka tidak enak, aku menghampirimu lagi.
"Ka, boleh minta nomor fachri nggak?"
Bodoh, kenapa pula aku harus meminta nomor dia kepada kamu.
What an impression i made that day.
"nih, pegang aja dulu hp gue" kata mu sambil lalu dengan muka jutek.
Malam itu aku melihatmu di belakang sebuah Front of House (FOH). Mengatur musik, lighting, tampilan, dan pertunjukan yang berlangsung. Rasa haru dan bangga menyebar di dadaku. Padahal, aku ini siapa? Tapi malam itu membuatku sadar, aku mengagumimu. Caramu berbicara, caramu membuat sebuah konser besar, caramu bekerja, dan auramu yang candu.
Lalu setelahnya, aku sudah tidak mampu lagi mendetailkan waktu-waktu yang berlalu. Terlalu banyak malam-malam panjang yang kita habiskan bersama.
(Ceritanya dilanjutin kalo mood ya, sedih juga mau nyeritain doi disini segamblang ini)
(Ceritanya dilanjutin kalo mood ya, sedih juga mau nyeritain doi disini segamblang ini)
0 comments:
Post a Comment