Have you ever wonder about your choice? the one that you've already choose.
Aku pernah bertanya-tanya kepada diri,
bagaimana akhirnya kita jika waktu itu aku tidak marah?
apa jadinya kita jika aku tidak menyerah?
bagaimana hasilnya dari lamanya kita menjalin hubungan waktu itu?
Semua pada akhirnya menghasilkan tanya kembali, mempertanyakan keputusan-keputusan yang telah aku pilih sebelumnya. Kemarin aku yakin dengan segala keputusan yang kuambil. Lalu saat ini, memilih pun tidak bisa. Karena apa yang akan di pilih?
There's a line said "Hati tidak pernah memilih. Hati itu dipilih, karena hati tidak perlu memilih"
Berbeda hal nya dengan cinta. Seorang bijak pernah berkata padaku, Jika kita diminta memilih, antara mencintai dan dicintai, rasanya memang sebaiknya mencintai. Karena jika kita mencintai kita yang memegang kontrol akan perasaan yang kita miliki.
Saat kita dicintai, kontrol itu berada pada orang lain yang tentunya bukan kontrol yang bisa kita pegang.
Namun kini, pilihan untuk tetap memilih dan mencintai, rasanya seperti bukan semudah teorinya. Pilihan untuk pergi dan melepaskan tidak semudah apa yang dibilang. Ada varaiabel-variabel lainnya yang ternyata tidak semudah itu dilepaskan. Ada faktor-faktor yang perlu dipikirkan dengan matang dan sungguh-sungguh. Memilih melepaskanmu tidak mudah, namun yakin akan aku ambil.
Meninggalkanmu adalah pilihan terbaikku waktu itu. Untuk menjaga diriku sendiri, untuk melepaskan perasaan yang terus-terusan bertepuk sebelah tangan, untuk melepaskan orang yang tak akan pernah bisa melihatku lebih dari sekedar teman. Aku pernah menyayangimu, namun pilihanku untuk mencintai dan menyayangi diriku lebih kuat.
Kepada pilihanku pada 6 bulan yang lalu, terimakasih telah ada.
Semoga aku tidak pernah salah memilihmu.

0 comments:
Post a Comment