kalo bahasa resign cuma bisa dikeluarkan saat kita mau keluar dari sebuah perusahaan tempat kita bekerja, gue rasa harus ada bahasa-bahasa resign lain untuk keluar dari sesuatu hal.
Keluar dari keluarga toxic
keluar dari tempat yang tidak menghargaimu
Keluar dari pertemanan yang tidak mendukung
dan keluar dari hubungan yang tidak berkembang.
Intinya, seharusnya resign ada untuk setiap kondisi. Resign dari keluarga yang toxic adalah salah satu hal yang paling susah dilakukan. Niat untuk keluar sudah ada, niat untuk nggak perlu berkomunikasi lagi sudah ada juga. Tapi rasanya sulit sekali untuk benar-benar keluar dari keluarga toxic.
Minta sama tuhan buat mengganti orang tua pun rasanya seperti bercanda.
Nanti akan ada mulut-mulut orang berkata"gatau diri lo" "gatau terimakasih" "durhaka"
Rasanya ingin marah, karena mereka tidak ada di posisiku.
Bersikap 'durhaka' seperti yang mereka bilang, adalah caraku menyelamatkan diri. Adalah caraku untuk tetap waras ditengah ketidakwarasan mereka.
Aku ingin resign dari keluarga toxic ini.
keluarga yang tidak pernah sekalipun mendengarkan pendapatku atau nasihatku.
Pada akhirnya, pepatah "Orangtua selalu benar anak tak perlu di dengar" yang benar-benar berlaku.
0 comments:
Post a Comment