Wednesday, March 6, 2013

Melody Yang belum Selesai



Tepuk tangan menggema di seluruh ruangan. Ku pejamkan mataku sesaat sebelum membungkuk dan memberi salam kepada seluruh penonton. Tepuk tangan masih mengiringi langkahku saat turun panggung. Mama sudah menungguku di belakang panggung. Dia tersenyum. Senyum yang sudah lama tak ku lihat.
“kamu hebat sayang”ujar mama dengan suara membuncah. Aku segera memeluk mama. Air mata mama terasa menetes di bahuku.
###
“Ody…!”teriakan rafel terdengar nyaring di depan rumahku. Aku segera menyampirkan tas ku. Ku minum habis susu yang tinggal setengah.
“Ma.. Melody berangkat ya”teriakku. Aku sempat mendengar mama menjawab salam ku.
“Duh.. sekarang yang aku bonceng bukan anak kuper pemalu lagi. Udah jadi pianis hebat! Hahaha”Kata Rafel menggodaku. Aku hanya ikut tertawa sembari memukulnya pelan.
“Hey, aku masih Melody yang namanya sering kamu ganti jadi Ody fel”sahutku. Rafel hanya nyengir.
Sesampainya di sekolah, aku langsung menaruh tas ku di kelas. Aku langsung bergegas ke ruang musik. Masih ada 15 menitan sebelum bel masuk berbunyi. Ku hampiri piano di pojok ruangan. Aku lebih suka memainkan piano lama daripada piano baru yang di depan dekat pintu masuk. Aku merasa sebagian dari diriku sudah melekat pada piano ini. Piano ini yang menemaniku jika menunggu Rafel remedial. Piano ini yang menemaniku kalau Rafel sedang sibuk dengan klub bola nya. Piano ini juga yang menginspirasiku untuk melanjutkan mimpi Kak Nada. Kakakku yang terpaksa meninggalkan mimpinya 4 bulan lalu. Aku menghembuskan nafasku berat. Hatiku perih setiap mengingat kak Nada.
“Jadi selama ini yang suka main piano disini kamu ya”Tiba tiba seorang cowok tinggi berkulit coklat susu sudah ada di belakangku. Aku kaget bercampur kikuk. Aku tak mendengar ada langkah kaki memasuki ruangan ini. Karena penerangan yang kurang terang, aku tak bisa melihat muka cowok ini dengan jelas. Dia mengulurkan tangannya.
“Tama. Aku sering ngeliat kamu pulang bareng Rafel.”ujarnya. aku membalas uluran tangannya.
“Melody. Ngomong ngomong ada apa ya?”tanya ku masih kikuk.
“Nggak ada apa apa. Cuma penasaran sama orang yang main piano disini setiap pagi. Setiap aku ngeliat kesini, yang mainnya udah pergi. Kalau kamu masih mau main piano, lanjut aja silahkan”katanya.
Aku hanya tersenyum. Bel terdengar nyaring. Membuatku sadar, harus segera keluar dari zona nyamanku.
“Sori ya duluan. Bye Tama” ujarku basa basi.
“Eh.. kamu anak 10-7 kan? Bareng aja. Aku anak 11-8”ujarnya. Aku hanya mengangguk mengiyakan.
Sesampainya di luar ruang musik, aku bisa melihat mukanya dengan jelas.  Aku seperti mengenali mukanya. Aku seperti pernah melihat Tama sebelumnya. Tapi entah dimana. Sampai aku masuk kelas pun aku tak dapat menemukan jawabannya.
Rafel sore ini ada latihan dadakan. Jadi ia tak bisa pulang bersamaku. Terpaksa aku harus menunggu angkot. Namun ternyata cuaca tak mendukungku. Hujan turun dengan derasnya. Banyak orang yang berteduh di halte. Membuat halte ini yang tadinya lengang jadi dipenuhi orang orang yang membuat sesak.. aku mendesah kesal.
“Naik angkot juga?” suara berat Tama mengangetkanku. Aku hanya mengangguk.Tama masih sibuk mengeringkan rambutnya yang basah. Dan aku baru menyadari bahwa tama sejujurnya sangat manis. Tampan juga mungkin.
“permainan piano mu semalam di Balai Orchestra Music sangat bagus. Tapi musiknya sedikit menggantung”Kata Tama tiba tiba. Aku langsung menoleh.
“aku mendapat tiket masuk ke balai. Jadi ya aku datang saja”Jelas Tama.  Aku mendesah sedih.
“lagu itu memang belum selesai. Makanya menggantung”ujarku. Seandainya semua orang tau, kalau itu lagu Kak Nada yang belum terselesaikan.
“Pasti akan lebih indah di dengar kalau kamu menyelesaikannya.”Ujar Tama. Aku tersenyum. Ya, semoga saja aku bisa melanjutkan partitur partitur nada yang belum selesai itu.
Sepulang sekolah, aku langsung merebahkan diri di kasurku. Baru beberapa menit aku memanjakan punggung dengan kasurku yang empuk, piano di samping jendela balkon kamar ku itu seperti menarik ku. Aku tak tau sejak kapan, tanganku tiba tiba saja sudah bermain diatas piano. Dan aku berhasil menemukan satu bait partitur lanjutan nya. Aku senang bukan main. Namun aku masih merasa lagu ini belum selesai. Lagu ini masih panjang lanjutannya. Lagu kak Nada seperti cerita panjang yang terus mengalir. Lagu ini bercerita. Dan aku tidak tau kapan lagu ini akan selesai bercerita.
“Dy…”Mama membuka pintu kamarku lalu duduk disebelah ku.
“Tumben mama udah pulang”ujarku. Mama hanya tertawa sambil mengelus rambutku  yang ku kucir kuda.
“Kamu tuh mirip banget sama Nada ya. Kalau udah sama piano nggak kenal waktu. Ini udah setengah tujuh. Kan emang biasanya mama pulang jam segini”Ujar mama. Aku hanya tersenyum.
“Ma, kapan ya lagu ini selesai?”Tanyaku sedih. Mama tersenyum dengan tenang.
“Kapan pun kamu mau. Kak Nada nggak pernah menyuruh kamu buat menyelesaikan lagu ini kan?”Tanya mama lembut. Aku menghela nafas.
“Kak Nada emang nggak pernah nyuruh ma. Tapi aku tau, kak Nada pasti pengen lagu ini diselesaikan. Walaupun bukan dia yang nyelesaiin.”ujarku.
“Jangan di paksaiin”Kata mama pada akhirnya. Mama keluar kamar. Aku segera mengambil wudhu dan sholat secepat mungkin sebelum ketinggalan maghrib. Setelah itu aku belajar sambil menunggu waktu isya. Lepas isya, aku sudah bersiap untuk tidur. Aku berusaha memejamkan mata. Namun lagi lagi, piano itu seperti menarikku. Aku mendekati piano ku. Baru saja aku akan memencet tuts, hp ku berbunyi. Aku mendesah kesal. Siapa yang telfon malam malam begini? Akhirnya aku angkat telfon tersebut.
“Halo” tidak ada jawaban. Hanya hening di sebrang. Aku baru saja akan menutup telfon saat suara di seberang menyahut.
“Sori ya telfon malem malem”kata suara di seberang. Aku mengerutkan kening, mencoba menebak suara siapa ini.
“Tama?”tebakku bingung. Dapat dari mana ia nomerku? Setahuku anak sekolahanku yang menyimpan nomerku hanya Rafel dan bu Ida wali kelasku.
“hai. Boleh minta tolong nggak?”
“Minta tolong apa?”Tanya  Melody bingung.
“Kamu kan pemusik. Tolong bantu aku ngelanjutin lagu yang aku bikin dong. Aku merasa lagu aku ada yang kurang lengkap.”Kata Tama. Sesaat aku tercenung sendiri. Tama dan aku baru saja saling kenal. Tapi rasanya nyaman berbicara padanya. Dan kenapa dia mempercayakan bantuannya kepadaku?
“yaudah kamu coba mainin aja. Aku dengerin dari sini”Ujarku. Tidak ada jawaban dari Tama. Namun ada suara gitar yang mengalun lembut. Nadanya benar benar bernyawa. Tama mungkin juga seorang pemusik. Sama dengan dirinya.
“Bagus banget! Aku nggak nyangka kamu bisa main lagu sebagus itu. Aku udah ketemu nada yang pas banget untuk lagu mu. Tapi pakai piano. Bukan pakai gitar”ujarku.
“Otak pemusik memang paling cepat ya kalau mikir masalah begini”Kata Tama. Aku hanya tertawa. Berhubung aku sudah di depan piano, aku segera memainkan piano. Hp ku kubiarkan dalam keadaan loudspeaker.
 “Besok pagi aku tunggu di ruang musik ya. Malem Melody”kata Tama mengakhiri pembicaraan.
Esok paginya, tanpa menaruh tas dahulu, aku langsung menuju ruang musik. Ternyata tama sudah disana bersama gitar di pangkuannya.
“Udah lama nunggu kah?”Tanyaku yang langsung duduk di kursi piano.
“ya nggak terlalu lah..”Ujarnya. iya masih sibuk memainkan gitarnya dengan nada nada pendek. Aku memperhatikan dia saat main gitar. Mukanya begitu mendalami nada nada yang terdengar.
“Coba kamu mainin lagu yang kamu mainin lagu itu deh”pintanya.  Aku mengerti lagu mana yang dia minta. Lagu Kak Nada. Aku segera berbalik, dan menghela nafas sejenak. Aku memainkan intro lagu yang cukup lama. Saat memasuki pertengahan lagu, Tama mengikuti permainan ku. Melody melody ku dan Tama berkolaborasi menjadi nada nada indah.
Selesai memainkannya, aku dan Tama tersenyum sama sama tahu melody yang baerru saja kita ciptakan sangat hebat.
“Dy! Kita harus bawain lagu ini pas pensi dua minggu lagi! Lagu ini bagus banget”Kata Tama dengan mata menyala nyala. Aku masih terdiam.
“Nggak ah”Ujarku singkat. Muka Tama langsung berubah kecewa. Namun dia tidak langsung putus asa.
“Kenapa? Tampil di Balai Orchestra Music aja berani. Masa tampil di sekolah aja nggak sih Dy.. ayolah”bujuk tama. Akhirnya aku mengangguk. Aku ingin semua orang mendengarkan.
2 minggu kemudian…
Aula sekolah penuh dengan siswa siswi yang ingin melihat pensi hari ini. Aku dan tama sudah bersiap di belakang panggung. Setelah kelompok drama tampil, aku dan Tama aju ke depan. Kapi membungkuk hormat. Tama sudah dengan gitarnya. Aku duduk di piano. Bebepa detik kemudian, aku sudah terhanyut di dalam lagu. Tama mengikuti permainan ku dengan gitarnya. Aku merasa kini beban yang menumpuk di bahuku terangkat. Lagu ini, khusus untuk kakakku tercinta, Syahnada Avaira. Kak, kini aku bias menyelesaikan nada nada dan melody yang belum selesai. Kini aku sudah menyelesaikan cerita panjangmu. Melody yang belum tuntas sudah usai.

0 comments:

Post a Comment

 
P.s this is what I've been Thinking... Blogger Template by Ipietoon Blogger Template