Tepuk tangan menggema di seluruh
ruangan. Ku pejamkan mataku sesaat sebelum membungkuk dan memberi salam kepada
seluruh penonton. Tepuk tangan masih mengiringi langkahku saat turun panggung.
Mama sudah menungguku di belakang panggung. Dia tersenyum. Senyum yang sudah
lama tak ku lihat.
“kamu hebat sayang”ujar mama dengan
suara membuncah. Aku segera memeluk mama. Air mata mama terasa menetes di
bahuku.
###
“Ody…!”teriakan rafel terdengar
nyaring di depan rumahku. Aku segera menyampirkan tas ku. Ku minum habis susu
yang tinggal setengah.
“Ma.. Melody berangkat ya”teriakku.
Aku sempat mendengar mama menjawab salam ku.
“Duh.. sekarang yang aku bonceng
bukan anak kuper pemalu lagi. Udah jadi pianis hebat! Hahaha”Kata Rafel
menggodaku. Aku hanya ikut tertawa sembari memukulnya pelan.
“Hey, aku masih Melody yang namanya
sering kamu ganti jadi Ody fel”sahutku. Rafel hanya nyengir.
Sesampainya di sekolah, aku langsung
menaruh tas ku di kelas. Aku langsung bergegas ke ruang musik. Masih ada 15
menitan sebelum bel masuk berbunyi. Ku hampiri piano di pojok ruangan. Aku
lebih suka memainkan piano lama daripada piano baru yang di depan dekat pintu
masuk. Aku merasa sebagian dari diriku sudah melekat pada piano ini. Piano ini
yang menemaniku jika menunggu Rafel remedial. Piano ini yang menemaniku kalau
Rafel sedang sibuk dengan klub bola nya. Piano ini juga yang menginspirasiku
untuk melanjutkan mimpi Kak Nada. Kakakku yang terpaksa meninggalkan mimpinya 4
bulan lalu. Aku menghembuskan nafasku berat. Hatiku perih setiap mengingat kak
Nada.
“Jadi selama ini yang suka main piano
disini kamu ya”Tiba tiba seorang cowok tinggi berkulit coklat susu sudah ada di
belakangku. Aku kaget bercampur kikuk. Aku tak mendengar ada langkah kaki
memasuki ruangan ini. Karena penerangan yang kurang terang, aku tak bisa
melihat muka cowok ini dengan jelas. Dia mengulurkan tangannya.
“Tama. Aku sering ngeliat kamu pulang
bareng Rafel.”ujarnya. aku membalas uluran tangannya.
“Melody. Ngomong ngomong ada apa
ya?”tanya ku masih kikuk.
“Nggak ada apa apa. Cuma penasaran
sama orang yang main piano disini setiap pagi. Setiap aku ngeliat kesini, yang
mainnya udah pergi. Kalau kamu masih mau main piano, lanjut aja
silahkan”katanya.
Aku hanya tersenyum. Bel terdengar
nyaring. Membuatku sadar, harus segera keluar dari zona nyamanku.
“Sori ya duluan. Bye Tama” ujarku
basa basi.
“Eh.. kamu anak 10-7 kan? Bareng aja.
Aku anak 11-8”ujarnya. Aku hanya mengangguk mengiyakan.
Sesampainya di luar ruang musik, aku
bisa melihat mukanya dengan jelas. Aku
seperti mengenali mukanya. Aku seperti pernah melihat Tama sebelumnya. Tapi
entah dimana. Sampai aku masuk kelas pun aku tak dapat menemukan jawabannya.
Rafel sore ini ada latihan dadakan.
Jadi ia tak bisa pulang bersamaku. Terpaksa aku harus menunggu angkot. Namun
ternyata cuaca tak mendukungku. Hujan turun dengan derasnya. Banyak orang yang
berteduh di halte. Membuat halte ini yang tadinya lengang jadi dipenuhi orang
orang yang membuat sesak.. aku mendesah kesal.
“Naik angkot juga?” suara berat Tama
mengangetkanku. Aku hanya mengangguk.Tama masih sibuk mengeringkan rambutnya
yang basah. Dan aku baru menyadari bahwa tama sejujurnya sangat manis. Tampan
juga mungkin.
“permainan piano mu semalam di Balai
Orchestra Music sangat bagus. Tapi musiknya sedikit menggantung”Kata Tama tiba
tiba. Aku langsung menoleh.
“aku mendapat tiket masuk ke balai.
Jadi ya aku datang saja”Jelas Tama. Aku
mendesah sedih.
“lagu itu memang belum selesai.
Makanya menggantung”ujarku. Seandainya semua orang tau, kalau itu lagu Kak Nada
yang belum terselesaikan.
“Pasti akan lebih indah di dengar
kalau kamu menyelesaikannya.”Ujar Tama. Aku tersenyum. Ya, semoga saja aku bisa
melanjutkan partitur partitur nada yang belum selesai itu.
Sepulang sekolah, aku langsung
merebahkan diri di kasurku. Baru beberapa menit aku memanjakan punggung dengan
kasurku yang empuk, piano di samping jendela balkon kamar ku itu seperti
menarik ku. Aku tak tau sejak kapan, tanganku tiba tiba saja sudah bermain
diatas piano. Dan aku berhasil menemukan satu bait partitur lanjutan nya. Aku
senang bukan main. Namun aku masih merasa lagu ini belum selesai. Lagu ini
masih panjang lanjutannya. Lagu kak Nada seperti cerita panjang yang terus
mengalir. Lagu ini bercerita. Dan aku tidak tau kapan lagu ini akan selesai
bercerita.
“Dy…”Mama membuka pintu kamarku lalu
duduk disebelah ku.
“Tumben mama udah pulang”ujarku. Mama
hanya tertawa sambil mengelus rambutku
yang ku kucir kuda.
“Kamu tuh mirip banget sama Nada ya.
Kalau udah sama piano nggak kenal waktu. Ini udah setengah tujuh. Kan emang
biasanya mama pulang jam segini”Ujar mama. Aku hanya tersenyum.
“Ma, kapan ya lagu ini
selesai?”Tanyaku sedih. Mama tersenyum dengan tenang.
“Kapan pun kamu mau. Kak Nada nggak
pernah menyuruh kamu buat menyelesaikan lagu ini kan?”Tanya mama lembut. Aku
menghela nafas.
“Kak Nada emang nggak pernah nyuruh
ma. Tapi aku tau, kak Nada pasti pengen lagu ini diselesaikan. Walaupun bukan
dia yang nyelesaiin.”ujarku.
“Jangan di paksaiin”Kata mama pada
akhirnya. Mama keluar kamar. Aku segera mengambil wudhu dan sholat secepat
mungkin sebelum ketinggalan maghrib. Setelah itu aku belajar sambil menunggu
waktu isya. Lepas isya, aku sudah bersiap untuk tidur. Aku berusaha memejamkan
mata. Namun lagi lagi, piano itu seperti menarikku. Aku mendekati piano ku.
Baru saja aku akan memencet tuts, hp ku berbunyi. Aku mendesah kesal. Siapa
yang telfon malam malam begini? Akhirnya aku angkat telfon tersebut.
“Halo” tidak ada jawaban. Hanya
hening di sebrang. Aku baru saja akan menutup telfon saat suara di seberang
menyahut.
“Sori ya telfon malem malem”kata
suara di seberang. Aku mengerutkan kening, mencoba menebak suara siapa ini.
“Tama?”tebakku bingung. Dapat dari
mana ia nomerku? Setahuku anak sekolahanku yang menyimpan nomerku hanya Rafel
dan bu Ida wali kelasku.
“hai. Boleh minta tolong nggak?”
“Minta tolong apa?”Tanya Melody bingung.
“Kamu kan pemusik. Tolong bantu aku
ngelanjutin lagu yang aku bikin dong. Aku merasa lagu aku ada yang kurang
lengkap.”Kata Tama. Sesaat aku tercenung sendiri. Tama dan aku baru saja saling
kenal. Tapi rasanya nyaman berbicara padanya. Dan kenapa dia mempercayakan
bantuannya kepadaku?
“yaudah kamu coba mainin aja. Aku
dengerin dari sini”Ujarku. Tidak ada jawaban dari Tama. Namun ada suara gitar
yang mengalun lembut. Nadanya benar benar bernyawa. Tama mungkin juga seorang
pemusik. Sama dengan dirinya.
“Bagus banget! Aku nggak nyangka kamu
bisa main lagu sebagus itu. Aku udah ketemu nada yang pas banget untuk lagu mu.
Tapi pakai piano. Bukan pakai gitar”ujarku.
“Otak pemusik memang paling cepat ya
kalau mikir masalah begini”Kata Tama. Aku hanya tertawa. Berhubung aku sudah di
depan piano, aku segera memainkan piano. Hp ku kubiarkan dalam keadaan
loudspeaker.
“Besok pagi aku tunggu di ruang musik ya.
Malem Melody”kata Tama mengakhiri pembicaraan.
Esok paginya, tanpa menaruh tas
dahulu, aku langsung menuju ruang musik. Ternyata tama sudah disana bersama
gitar di pangkuannya.
“Udah lama nunggu kah?”Tanyaku yang
langsung duduk di kursi piano.
“ya nggak terlalu lah..”Ujarnya. iya
masih sibuk memainkan gitarnya dengan nada nada pendek. Aku memperhatikan dia
saat main gitar. Mukanya begitu mendalami nada nada yang terdengar.
“Coba kamu mainin lagu yang kamu
mainin lagu itu deh”pintanya. Aku mengerti
lagu mana yang dia minta. Lagu Kak Nada. Aku segera berbalik, dan menghela
nafas sejenak. Aku memainkan intro lagu yang cukup lama. Saat memasuki
pertengahan lagu, Tama mengikuti permainan ku. Melody melody ku dan Tama
berkolaborasi menjadi nada nada indah.
Selesai memainkannya, aku dan Tama
tersenyum sama sama tahu melody yang baerru saja kita ciptakan sangat hebat.
“Dy! Kita harus bawain lagu ini pas
pensi dua minggu lagi! Lagu ini bagus banget”Kata Tama dengan mata menyala
nyala. Aku masih terdiam.
“Nggak ah”Ujarku singkat. Muka Tama
langsung berubah kecewa. Namun dia tidak langsung putus asa.
“Kenapa? Tampil di Balai Orchestra
Music aja berani. Masa tampil di sekolah aja nggak sih Dy.. ayolah”bujuk tama.
Akhirnya aku mengangguk. Aku ingin semua orang mendengarkan.
2 minggu kemudian…
Aula sekolah penuh dengan siswa siswi
yang ingin melihat pensi hari ini. Aku dan tama sudah bersiap di belakang
panggung. Setelah kelompok drama tampil, aku dan Tama aju ke depan. Kapi
membungkuk hormat. Tama sudah dengan gitarnya. Aku duduk di piano. Bebepa detik
kemudian, aku sudah terhanyut di dalam lagu. Tama mengikuti permainan ku dengan
gitarnya. Aku merasa kini beban yang menumpuk di bahuku terangkat. Lagu ini,
khusus untuk kakakku tercinta, Syahnada Avaira. Kak, kini aku bias
menyelesaikan nada nada dan melody yang belum selesai. Kini aku sudah
menyelesaikan cerita panjangmu. Melody yang belum tuntas sudah usai.
0 comments:
Post a Comment