
Lucu rasanya. Betapa aku telah melangkah menjauh dari pusaran waktu. Berapa jauhnya pun aku menghindar, nyatanya pun perasaan itu tetap kembali. Menunggu untuk diakui. Aku lelah. Aku seperti bermain petak umpat. Aku menghindar dan bersembunyi. Namun, aku tetap harus di temukan. Aku tak bisa selamanya bersembunyi dan pergi dari kenyataan. Sakitnya, aku kembali menjadi pengecut yang hanya bisa mengagumi mu dan mencintaimu hanya sebatas punggung. Seseorang pernah bertanya padaku, 'apa kamu akan terus mencintai punggungnya saja? Kamu harus mengatakannya'
Semudah itu ia bicara. Namun sangat sulit untuk ku lakukan. Mungkin karena aku yang terlalu pengecut untuk mengatakan. Atau aku yang terlalu takut menghadapi kenyataan. Atau aku yang terlalu takut dengan kemungkinan kemungkinan yang di luar ekspetasi ku.
Hingga kini pun aku juga masih bertanya tanya. Apa yang masih tersisa dengan perasaan ini? Kenapa sepertinya ia menuntut ku? Untuk apa? Apa setelah aku mengungkapkan perasaan ku selama ini, lalu setelah itu aku bisa tenang dan pergi dari hidupnya? Aku pun tak mengerti. Ini hanya aku, aku dengan kebodohanku dan ke egoisan perasaanku. Aku masih mencintainya. Dulu, sekarang, dan entah sampai kapan. Aku juga menyayanginya. Dan itu tidak mudah untuk dilupakan begitu saja. Andai dia tahu, andai dia mau menyempatkan sedikit waktunya untuk melihat ku pasti ia akan sadar betapa aku sangat mencintainya selama ini.
Aku melihat dunia, bertemu banyak orang. Bahkan mungkin lebih baik dari dirinya. Namun cinta ini aneh kau tau? Seberapa pun aku tau ketidaksempurnaannya, semakin aku yakin kalau aku mencintainya. Semakin aku menemukan alasan untuk menyayanginya.
Namun seberapa pun langkah kaki jauh darinya, seberapapun dunia ini memisahkan raga ku dengannya, namanya akan tetap ada dalam setiap doaku. Dirinya akan ada di setiap hariku. Karena dia, cintaku.
0 comments:
Post a Comment