Saturday, September 20, 2014

Aku cinta, tapi...

Ironis bukan bagaimana cinta bekerja? Selalu mengejutkan kita dengan berbagai caranya yang tak pernah bisa kita tebak. Kadang aku bertanya, Jika tuhan yang memerikan perasaan ini, mengapa harus memberikan yang semacam ini? 
Oke, aku tidak akan berbelit belit. Aku mencinta sosok itu. Iya dia, dia yang setiap hari membina kelas, dia yang setiap hari di panggil guru karena dia lah sang pemimpin kelas. Aku mencintai sosoknya yang bisa menjadi anak kecil saat bermain games favoritnya. Namun bisa berubah total menjadi sosok bijaksana yang menyampaikan berita ataupun tugas. Sosoknya yang aku hafal cara jalannya, cara ia menulis, cara ia memperhatikan. Semuanya menarikku. Semuanya mempesonaku. It's slowly and then all at once, i'm in love with him. Aku bahagia setidaknya aku dekat denganmu. Aku senang kau memiliki panggilan khusus untukku. Aku bahagia kita bisa satu kelompok belajar matematika. Namun seberapa banyak aku menyadari kalah aku mencintaimu, sebesar itu pula aku sadar tentang status agama kita. Keyakinan kita berbeda. Aku dan dia bukan dalam satu tempat ibadah yang sama. Tidak mengucap lafal doa yang sama. Aku dan dia tidak menuju ke arah yang sama. Aku ingin mencoba menyerah, berhenti mencintainya. Namun seperti biasanya, semakin aku berhenti maka semakin aku merasakan kalau cintaku untuknya sangat besar. Tidak, aku jauh lebih mencintai tuhanku, keyakinanku tentu saja. 
Namun ini rumit kau tahu? Seakan kau harus memilih. Padahal tidak ada yang menyuruhmu memilih. Bisakah aku mencintai dua duanya? Mungkin itu terdengar serakah, namun apa yang harus aku perbuat? Melupakan cinta tak semudah kau melupakan nomor hp. Kadang aku bertanya, apa pesan tuhan dibalik semua ini? Apa yang ia coba beritahu kepadaku? Can i got an answer god? I'm tired







0 comments:

Post a Comment

 
P.s this is what I've been Thinking... Blogger Template by Ipietoon Blogger Template