Iya, ia patah tak bersisa
Yang ada hanya nyala api yang terus membara
Patah sudah hingga hancur"
Awalnya kukira akan terasa mudah dan biasa saja untuk melewati semua ini. Tadinya kukira aku bisa melupakan dirimu dengan seiringnya waktu. Tadinya aku berharap luka ini akan sembuh dengan berjalannya waktu.
Namun nyatanya, aku tetap sakit melihatmu bersamamu
Hatiku tetap membiru tiap kali mendengar nama perempuan itu
Iya, dia yang kini bersamamu.
Mengapa pula aku harus jatuh cinta dengan dirimu sampai sedalam ini?
Harusnya aku sudah menyerah saja. Toh, kamu tetap bersamanya kan? Toh, nyatanya kau tak akan pernah mau bersamaku.
Berulang kali ku lafalkan dalam hati, doa doa untuk ketenanganku. Doa doa agar aku cepat cepat berpaling darimu. Namun mungkin saat ini tuhan belum mengizinkan. Mungkin memang masih takdirku untuk tetap melihatmu bersamanya.
Walau perih yang pedih
Walau luka yang menganga
Walau lebam yang membiru
Walau kelabu yang menggantung
Walau sedih yang tak kunjung berhenti
Kau tetap bersamanya
Tak ada yang bisa ku lakukan lagi.
Jika dahulu aku pernah ikhlas untuk melepaskanmu dari genggamku, maka aku bodoh. Karena nyatanya kau yang benar benar aku butuhkan.
Sadar kah kamu? Aku bukan hanya menginginkanmu. Aku sangat membutuhkan mu.
Aku tak tau apa lagi yang bisa ku pertaruhkan agar bisa membuatmu mengerti, aku lebih mencintaimu daripada dirinya. Aku yang selalu disini. Yang terkadang tak kau anggap, namun masih tetap menanti.
Pasang surut dalam cerita kita mengajarkanku, berapa kali pun kau menghilang dari hidupku, aku akan tetap dan selalu mencintaimu.



0 comments:
Post a Comment