Sunday, March 4, 2018

Phase: Breaking Up




In the end, everything falling apart doesn’t it?
People said that sometimes we don’t know what is going on and what happen. It’s suck to write something that you need to write the monologue and prologue first. It’s just suck. So here it is.
Hatiku sakit. Lagi-lagi kembali pada fase ini setelah sekian lama. Mungkin ini memang waktunya bagiku untuk kembali bertemu sang luka. Tidak mungkin pula bahagia bertahan lama tanpa ada sakit kan? 

            Sudah 7 bulan lebih hingga 3 maret 2018 kemarin. Bahagiaku yang kurasa akan lama bertahan.  Aku mungkin memang tidak akan bisa menahannya lebih lama dari takdir yang sudah menjadwalkannya. Tuhkan, aku kembali berbicara terlalu banyak. Dai kemarin minta berhenti memberiku bahagia. Disaat aku sudah benar-benar merasa aku membutuhkan dia. Kenapa dan? Aku sadar, akhir-akhir ini memang kita jarang ketemu, minim komunikasi, aku yang terlalu mudah merindu dan kamu dengan cuekmu. Hingga pada akhirnya tadi malam kamu menyerah.
Tapi aku belum mau menyerah dan. Tidak pada hubungan kita.
Kamu bilang semua akan baik baik saja. Kamu bilang kita akan tetap begini layaknya dua orang teman. Kamu bilang kamu ingin tetap ada di dekatku. Namun aku tidak yakin aku bisa, berada di dekatmu, masih menyimpan sayang ku untukmu. Sedangnkan kita tau kita berdua hanya potongan hati yang rusak. Lebih tepatnya, aku yang hanya potongan hati yang rusak dan semakin rusak.
Tidak, sejauh ini aku tidak marah pada kenyataan bahwa kau menyerah dan melepaskanku. Aku marah pada diriku sendiri untuk tidak bisa mengertimu lebih. Aku marah pada diriku sendiri atas perasaan yang kadang sepi dan menyesakkan hingga kita tak mampu jujur untuk merasakan perasaan satu sama lain. aku tidak tau nanti akan bagaimana. Rabu bukan kita akan bertemu? Aku tak tau nanti akan seperti apa.
Yang pasti, aku akan memberitahumu hal ini.
Bahwa aku masih mencintaimu, masih menyayangimu sepenuh hatiku. Mungkin kita memang bukan dua orang yang sama sama baik untuk mencinta. Namun aku percaya, denganmu aku bisa menjadi seseorang yang paling tidak jauh lebih baik dari sebelumnya. Aku sadar ada banyak pikiran dan perasaan yang belum tersampaikan. Marah, sedih, kecewa, dan hal lainnya. aku ingin kamu tau, aku tidak akan menyerah. Tidak disaat yang aku tau kita hanya butuh bicara dan memperbaiki hubungan kita. Aku tidak akan menyerah pada seseorang yang memberiku banyak kebahagiaan dan membuatku selalu bersyukur.
Tapi dan, apapun nantinya. Semoga aku akan selalu bisa memafkaanmu. Semoga aku akan selalu bisa melihatmu dengan ikhlas. Semoga aku mampu untuk menganggapmu sebagai seorang temanku, walau hatiku nyeri sakit dan berdenyut. Kamu adalah bahagiaku. Kamu adalah seseorang yang pernah memberi warna di masa kuliahku, menghapus segala sedih dan membuatku paham artinya memaafkan masa lalu. Jika memang nanti kau harus menjadi bagian dari masa lalu itu, biarkan aku tetap mencintaimu dan mengingatmu sebagai seseorang yang pernah berharga dan menjadi prioritasku. Tidak, aku tidak menyerah. Hanya mencoba ikhlas bahwa kau pernah melepasku lebih dulu dan tidak menginginkanku sebesar aku menginginkanmu.

Terimakasih.

0 comments:

Post a Comment

 
P.s this is what I've been Thinking... Blogger Template by Ipietoon Blogger Template