Wednesday, July 18, 2018

Selamat Malam, Pagiku



            Matahari pagi masih bersinar terang saat aku berangkat dari Rumah tadi. Kini langit sudah mendung, gelap dan matahari tak terlihat sama sekali, padahal baru satu jam berlalu. Secepat itu cuaca berganti. Ku ambil payung di bagasi mobilku untuk mengantisipasi datangnya hujan. Sayang sekali, padahal pagi ini terlalu cerah untuk ditemani bersama kelabunya langit dan basahnya hujan. Memasuki ruang kuliah pagi ini banyak kursi yang belum terisi penuh. Bisa di pastikan banyak yang sudah terjebak hujan, atau terlalu malas mengangkat badannya untuk kuliah di pagi hari yang mendung. Hujan tidak pernah tidak nyaman untuk tidur didalam balutan selimut. Kuliah umum pagi ini memang sengaja dibuat untuk mengawali semester ganjil tahun ini.
Lalu aku sadar, bukan saja aku yang berada di ruangan ini. Dia duduk di kursi tengah paling kanan didekat jendela. Sosoknya yang seakan menyatu dengan rintik hujan diluar sana. Dengan jaket abu-abu kebangsaannya, ia menutup rambutnya yang tebal namun masih terlihat rapi itu. Kemudian ia ganti menoleh menghadapku, sadar ruang sepinya di interupsi olehku yang baru saja datang. Belum sempat aku tersenyum ia sudah memalingkan mukanya kembali. Mungkin memang pemandangan diluar sana lebih bagus daripada kedatanganku yang hadirnya tak pernah ia pedulikan. Aku mencari tempat duduk sejauh mungkin darinya, berusaha menciptakan ruang yang lebih jauh lagi dari yang ia ciptakan. Maka beginilah kita semenjak 2 bulan yang lalu. Hanya diam yang mengisi ruang Diantara kita, dan ruang yang kau ciptakan semakin menjauh dan menjauh. Hingga aku tak tahu lagi bagaimana mencoba mengisi ruang yang sudah terlampau jauh ini.
***
3 Bulan sebelumnya, 29 April 2017
Buru-buru aku melangkahkan kakiku ke Gedung utama kampus. Kulirik jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 4 sore lewat. Dia sudah duduk bersandar menungguku disana. Aku hanya mampu memberikan cengiran bersalahku karena sudah membuatnya menunggu.
“Sori telat” ucapku.
“Bilangnya otw dari tadi tapi yang sampai aku duluan” balasnya.
“Ya maaf sih gi hehehe. Jadi, gimana-gimana?”
Sore itu, aku dan pagi memang janjian untuk bertemu di Gedung utama kampus untuk membahas program kerja yang kita pegang bersama satu bulan lagi. Aku baru satu minggu mengenal Pagi. Selama ini bergelut di satu organisasi yang sama tak lantas membuatku mengenalnya. Selama ini aku hanya tau namanya Pagi, badannya tinggi dan atletis. He is a good looking guy, honestly. But I won’t go there, yet. Lalu entah darimana asalnya, aku dan Pagi mendapat gelar Putri dan Pangeran, istilahnya, duta dari organisasi yang kami ikuti ini. Setelah itu, bisa ditebak, banyak kegiatan dan program yang harus kami lakoni sebagai Putri dan Pangeran. Buatku, ini adalah bentuk kepercayaan orang lain terhadapku di lingkungan organisasi ini, tapi buat Pagi, dirinya bukanlah seseorang yang seharusnya pantas mendapatkan title ‘Pangeran’ ini. Pagi terbilang mahasiswa yang super sibuk dengan berbagai kegiatan Fakultas nya yang terkenal paling ‘keras’ dalam mendidik mahasiswanya itu. Belum lagi ia adalah seorang asisten dosen yang memiliki segudang kesibukan lainnya yang buatnya adalah prioritas.
Satu mei 2017. Tiga hari setelah pertemuan dan rapat perdana aku dan Pagi di Gedung utama, hari ini Pagi memintaku dan beberapa anak lainnya untuk datang juga untuk rapat panitia secara keseluruhan. Beberapa hari mengenalnya, aku menemukan fakta bahwa dia sebenarnya asik, kalau tidak sedang grumpy. Banyak hal yang dengan mudahnya membuat mood dan suasana hatinya berantakan. Contohnya seperti siang ini, paket internet nya habis dan hanya bisa mengandalkan wifi kampus yang lemotnya setengah mati dan membuat jengkel. Dari pertama kali aku duduk di lingkaran ini, sampai selesai, Pagi hanya berbicara sepatah dua patah kata yang sebenarnya membuatku sedikit jengkel. Ia ketua acara ini, harusnya ia memberikan lebih banyak kontribusi. Akhirnya hari itu kami memutuskan untuk survey ke beberapa panti asuhan untuk kegiatan Bakti Sosial dan Buka bersama akhir bulan ini. Sekitar jam 2 siang kami beranjak menuju tempat survey pertama. Selama perjalanan, motornya dia didepanku. Dia membonceng salah satu temanku yang satu divisi denganku. Sesaat, ada rasa yang mengganjal di hatiku. Rasa tidak suka melihatnya bersama perempuan lain dan bercanda berbagi tawa. Ah, aku ini siapa? Berani-beraninya posesif begini.
Saat sampai di panti asuhan pertama, ia hanya turun dan mengecek lingkungan sekelilingnya.
“Kamu aja yang masuk sama Haulia” ujarnya bahkan sebelum aku sempat bertanya. Dasar, giliran yang seperti ini nyuruhnya aku.
Aku dan Haulia memasuki panti asuhan pertama dan bertemu dengan pengelolanya. Bertanya-tanya beberapa hal yang perlu kami tanyakan sebagai perbandingan dengan panti-panti asuhan lainnya yang akan kami datangi hari itu. Hingga 4 panti asuhan lainnya, ia hanya turun di motor, atau hanya sekedar di parkiran. Selalu aku dan Haulia yang bertanya dan mengobrol dengan pengelola.
“Pagi, besok-besok kalau survey tuh ya ikut masuk kenapa sih” kataku akhirnya yang sebal melihat tingkahnya.
“Ya ngapain juga banyak-banyak orang masuk kedalam. Kan sudah kamu sama Haulia, kalian lah yang jago ngomong” Balasnya sambil nyengir.
Hari berlalu, rapat demi rapat berjalan sesuai dengan tanggal-tanggal yang sudah di jadwalkan. Satu bulan mempersiapkan kegiatan terasa sangat cepat berlalu. Berkali-kali aku menunggu Pagi membalas chat ku yang kemudian ia balas 24 jam setelahnya. Lalu aku hanya akan membutuhkan waktu 2 menit untuk membalas chatnya. Selalu seperti itu, selalu aku yang menunggunya. Rasa yang tadinya hanya sekedar peduli, lama-lama bertumbuh menjadi sesuatu yang lain semakin intensnya pembicaraan dan obrolan aku dan Pagi. Semakin lama mengenalnya, semakin aku sadar, ada rasa yang tersimpan rapi untuknya di hati ini.
Minggu, 14 mei 2017
Hari itu aku dan dia harus mewakili organisasi untuk pembuatan video kumpulan organisasi di kampus yang akan ditayangkan saat Penerimaan mahasiswa baru. Aku tau dia hari ini akan grumpy. Ia sudah ngedumel soal macam-macam semenjak tadi pagi. Kami janjian di sekre dan kemudian boncengan menuju lokasi pembuatan video.
“Aku tuh harusnya hari ini ada asistensi. Batal semua rencanaku gara-gara acara ini. Kenapa sih apa-apa harus kita yang ngerjain? Kan bisa dikasihin ke yang lain juga biar bagi-bagi. Aku jadi merasa label ‘Pangeran’ tuh udah nggak ada esensinya kalau kaya gini” Duh pagi, kenapa sih kamu ngomel terus?
“Yaudah sih jalanin aja. Sabar kenapa, kan berarti kita dikasih kepercayaan sama yang lain. Lagian kan aku setuju ikutan pembuatan video ini karena Hardi bilang kamu udah setuju” Balasku dari belakang.
“Aku nggak tau sama sekali waktu Hardi ngomong dan ngumumin soal ini kedepan. Aku lagi sholat. Tau-tau kamu bilang kaya gitu” dia masih saja kesal. Semua kekesalan itu tergambar dengan jelas di raut mukanya. Sesampainya di lokasi pembuatan video, masih kosong dan belum ada orang-orang dari panitia. Aku duduk di selasar di hadapannya.
“Gi, follow back instagram dong” kataku. Baru teringat dua hari belakangan aku sudah mengikutinya di instagram dan dia belum juga memfollow back ku.
“Nanti ah kalau buka instagram” balasnya.
“kan kamu pegang hp sekarang, kenapa nggak buka instagram aja?” kataku.
“Males” dengan entengnya dia membalas. Membuatku gregetan.
“Ih yaudah…”
“Nggak di follow back terus unfollow? Dasar gila followers” ledeknya. Aku tau mood nya sudah membaik.  
“Loh, bukan gila followers lah gi. Ya etikanya aja, kamu sombong banget temen udah ngefollow kamu diemin. Ogah banget aku ngefollow orang begitu di instagram” balasku. Lalu dia tertawa. Tawa yang mampu mengalihkan segala nada di sekelilingku. Tuhan, tawanya saja sudah cukup. Aku mau tak mau tersenyum juga mendengar tawa indahnya.
“Iya-iya nanti ya kalau buka instagram” akhirnya ia dan aku sama-sama mengalah.
Pagi, salah satu manusia yang kutemukan diantara ribuan manusia lain yang ada di kampus kerakyatan ini. Jogja, dengan segala cerita yang katanya memiliki daya magisnya tersendiri. Kota penuh cerita romansa. Dengannya, ku temukan rasa yang nyaris hilang dalam diriku. Percaya, Cinta, dan Bahagia.
Terimakasih karena pernah memberiku sebuah arti untuk jatuh cinta kembali. Terimakasih pula telah membuatku menyadari, bahwa mungkin memang tidak semua cinta harus dimiliki dan dikatakan.


Yogyakarta, Juni 2017

0 comments:

Post a Comment

 
P.s this is what I've been Thinking... Blogger Template by Ipietoon Blogger Template