Matahari
pagi masih bersinar terang saat aku berangkat dari Rumah tadi. Kini langit
sudah mendung, gelap dan matahari tak terlihat sama sekali, padahal baru satu
jam berlalu. Secepat itu cuaca berganti. Ku ambil payung di bagasi mobilku
untuk mengantisipasi datangnya hujan. Sayang sekali, padahal pagi ini terlalu
cerah untuk ditemani bersama kelabunya langit dan basahnya hujan. Memasuki
ruang kuliah pagi ini banyak kursi yang belum terisi penuh. Bisa di pastikan banyak
yang sudah terjebak hujan, atau terlalu malas mengangkat badannya untuk kuliah
di pagi hari yang mendung. Hujan tidak pernah tidak nyaman untuk tidur didalam
balutan selimut. Kuliah umum pagi ini memang sengaja dibuat untuk mengawali
semester ganjil tahun ini.
Lalu aku sadar, bukan saja aku yang
berada di ruangan ini. Dia duduk di kursi tengah paling kanan didekat jendela. Sosoknya
yang seakan menyatu dengan rintik hujan diluar sana. Dengan jaket abu-abu
kebangsaannya, ia menutup rambutnya yang tebal namun masih terlihat rapi itu.
Kemudian ia ganti menoleh menghadapku, sadar ruang sepinya di interupsi olehku
yang baru saja datang. Belum sempat aku tersenyum ia sudah memalingkan mukanya
kembali. Mungkin memang pemandangan diluar sana lebih bagus daripada
kedatanganku yang hadirnya tak pernah ia pedulikan. Aku mencari tempat duduk
sejauh mungkin darinya, berusaha menciptakan ruang yang lebih jauh lagi dari
yang ia ciptakan. Maka beginilah kita semenjak 2 bulan yang lalu. Hanya diam
yang mengisi ruang Diantara kita, dan ruang yang kau ciptakan semakin menjauh
dan menjauh. Hingga aku tak tahu lagi bagaimana mencoba mengisi ruang yang
sudah terlampau jauh ini.
***
3 Bulan sebelumnya, 29 April 2017
Buru-buru aku melangkahkan kakiku ke
Gedung utama kampus. Kulirik jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 4 sore
lewat. Dia sudah duduk bersandar menungguku disana. Aku hanya mampu memberikan
cengiran bersalahku karena sudah membuatnya menunggu.
“Sori telat” ucapku.
“Bilangnya otw dari tadi tapi yang sampai aku duluan” balasnya.
“Ya maaf sih gi hehehe. Jadi,
gimana-gimana?”
Sore itu, aku dan pagi memang janjian
untuk bertemu di Gedung utama kampus untuk membahas program kerja yang kita
pegang bersama satu bulan lagi. Aku baru satu minggu mengenal Pagi. Selama ini
bergelut di satu organisasi yang sama tak lantas membuatku mengenalnya. Selama
ini aku hanya tau namanya Pagi, badannya tinggi dan atletis. He is a good looking guy, honestly. But I
won’t go there, yet. Lalu entah darimana asalnya, aku dan Pagi mendapat
gelar Putri dan Pangeran, istilahnya, duta dari organisasi yang kami ikuti ini.
Setelah itu, bisa ditebak, banyak kegiatan dan program yang harus kami lakoni
sebagai Putri dan Pangeran. Buatku, ini adalah bentuk kepercayaan orang lain
terhadapku di lingkungan organisasi ini, tapi buat Pagi, dirinya bukanlah
seseorang yang seharusnya pantas mendapatkan title ‘Pangeran’ ini. Pagi
terbilang mahasiswa yang super sibuk dengan berbagai kegiatan Fakultas nya yang
terkenal paling ‘keras’ dalam mendidik mahasiswanya itu. Belum lagi ia adalah
seorang asisten dosen yang memiliki segudang kesibukan lainnya yang buatnya
adalah prioritas.
Satu mei 2017. Tiga hari setelah
pertemuan dan rapat perdana aku dan Pagi di Gedung utama, hari ini Pagi
memintaku dan beberapa anak lainnya untuk datang juga untuk rapat panitia
secara keseluruhan. Beberapa hari mengenalnya, aku menemukan fakta bahwa dia
sebenarnya asik, kalau tidak sedang grumpy.
Banyak hal yang dengan mudahnya membuat mood
dan suasana hatinya berantakan. Contohnya seperti siang ini, paket internet
nya habis dan hanya bisa mengandalkan wifi
kampus yang lemotnya setengah
mati dan membuat jengkel. Dari pertama kali aku duduk di lingkaran ini, sampai
selesai, Pagi hanya berbicara sepatah dua patah kata yang sebenarnya membuatku
sedikit jengkel. Ia ketua acara ini, harusnya ia memberikan lebih banyak
kontribusi. Akhirnya hari itu kami memutuskan untuk survey ke beberapa panti
asuhan untuk kegiatan Bakti Sosial dan Buka bersama akhir bulan ini. Sekitar
jam 2 siang kami beranjak menuju tempat survey pertama. Selama perjalanan,
motornya dia didepanku. Dia membonceng salah satu temanku yang satu divisi
denganku. Sesaat, ada rasa yang mengganjal di hatiku. Rasa tidak suka
melihatnya bersama perempuan lain dan bercanda berbagi tawa. Ah, aku ini siapa? Berani-beraninya posesif
begini.
Saat sampai di panti asuhan pertama,
ia hanya turun dan mengecek lingkungan sekelilingnya.
“Kamu aja yang masuk sama Haulia”
ujarnya bahkan sebelum aku sempat bertanya. Dasar,
giliran yang seperti ini nyuruhnya aku.
Aku dan Haulia memasuki panti asuhan
pertama dan bertemu dengan pengelolanya. Bertanya-tanya beberapa hal yang perlu
kami tanyakan sebagai perbandingan dengan panti-panti asuhan lainnya yang akan
kami datangi hari itu. Hingga 4 panti asuhan lainnya, ia hanya turun di motor,
atau hanya sekedar di parkiran. Selalu aku dan Haulia yang bertanya dan
mengobrol dengan pengelola.
“Pagi, besok-besok kalau survey tuh
ya ikut masuk kenapa sih” kataku akhirnya yang sebal melihat tingkahnya.
“Ya ngapain juga banyak-banyak orang
masuk kedalam. Kan sudah kamu sama Haulia, kalian lah yang jago ngomong”
Balasnya sambil nyengir.
Hari berlalu, rapat demi rapat
berjalan sesuai dengan tanggal-tanggal yang sudah di jadwalkan. Satu bulan
mempersiapkan kegiatan terasa sangat cepat berlalu. Berkali-kali aku menunggu
Pagi membalas chat ku yang kemudian ia balas 24 jam setelahnya. Lalu aku hanya
akan membutuhkan waktu 2 menit untuk membalas chatnya. Selalu seperti itu,
selalu aku yang menunggunya. Rasa yang tadinya hanya sekedar peduli, lama-lama
bertumbuh menjadi sesuatu yang lain semakin intensnya pembicaraan dan obrolan
aku dan Pagi. Semakin lama mengenalnya, semakin aku sadar, ada rasa yang
tersimpan rapi untuknya di hati ini.
Minggu, 14 mei 2017
Hari itu aku dan dia harus mewakili
organisasi untuk pembuatan video kumpulan organisasi di kampus yang akan
ditayangkan saat Penerimaan mahasiswa baru. Aku tau dia hari ini akan grumpy. Ia sudah ngedumel soal macam-macam semenjak tadi pagi. Kami janjian di sekre
dan kemudian boncengan menuju lokasi pembuatan video.
“Aku tuh harusnya hari ini ada asistensi. Batal semua rencanaku
gara-gara acara ini. Kenapa sih apa-apa harus kita yang ngerjain? Kan bisa
dikasihin ke yang lain juga biar bagi-bagi. Aku jadi merasa label ‘Pangeran’
tuh udah nggak ada esensinya kalau kaya gini” Duh pagi, kenapa sih kamu ngomel
terus?
“Yaudah sih jalanin aja. Sabar
kenapa, kan berarti kita dikasih kepercayaan sama yang lain. Lagian kan aku
setuju ikutan pembuatan video ini karena Hardi bilang kamu udah setuju” Balasku
dari belakang.
“Aku nggak tau sama sekali waktu
Hardi ngomong dan ngumumin soal ini kedepan. Aku lagi sholat. Tau-tau kamu
bilang kaya gitu” dia masih saja kesal. Semua kekesalan itu tergambar dengan
jelas di raut mukanya. Sesampainya di lokasi pembuatan video, masih kosong dan
belum ada orang-orang dari panitia. Aku duduk di selasar di hadapannya.
“Gi, follow back instagram dong” kataku. Baru teringat dua hari
belakangan aku sudah mengikutinya di instagram dan dia belum juga memfollow back ku.
“Nanti ah kalau buka instagram”
balasnya.
“kan kamu pegang hp sekarang, kenapa
nggak buka instagram aja?” kataku.
“Males” dengan entengnya dia
membalas. Membuatku gregetan.
“Ih yaudah…”
“Nggak di follow back terus unfollow?
Dasar gila followers” ledeknya. Aku
tau mood nya sudah membaik.
“Loh, bukan gila followers lah gi. Ya etikanya aja, kamu sombong banget temen udah
ngefollow kamu diemin. Ogah banget
aku ngefollow orang begitu di
instagram” balasku. Lalu dia tertawa. Tawa yang mampu mengalihkan segala nada
di sekelilingku. Tuhan, tawanya saja sudah cukup. Aku mau tak mau tersenyum
juga mendengar tawa indahnya.
“Iya-iya nanti ya kalau buka
instagram” akhirnya ia dan aku sama-sama mengalah.
Pagi, salah satu manusia yang kutemukan
diantara ribuan manusia lain yang ada di kampus kerakyatan ini. Jogja, dengan
segala cerita yang katanya memiliki daya magisnya tersendiri. Kota penuh cerita
romansa. Dengannya, ku temukan rasa yang nyaris hilang dalam diriku. Percaya,
Cinta, dan Bahagia.
Terimakasih karena pernah memberiku
sebuah arti untuk jatuh cinta kembali. Terimakasih pula telah membuatku
menyadari, bahwa mungkin memang tidak semua cinta harus dimiliki dan dikatakan.
Yogyakarta, Juni 2017
0 comments:
Post a Comment